WELFARE STATE

Mekanisme pasar, jika memenuhi asumsi asumsinya, terutama adanya kebebasan berusaha sehingga jumlah penjual menjadi banyak dan jumlah pembelinya juga banyak, maka akan diperoleh harga yang tepat bagi suatu barang. Harga tersebut tidak terlalu rendah sehingga penggunaan sumber ekonomi akan menjadi boros, karena memproduk terlalu banyak. Demikian juga harga tidak terlalu tinggi, sehingga potensi daya beli akan terakumulasi di tangan penjual, sebagaimana terjadi dalam kasus monopoli. Dalam kasus monopoli harga ditentukan terlalu tinggi, daya beli konsumen akan beralih ke penjual, kemudian monopolis mencetak barang terlalu sedikit. Beralihnya daya beli konsumen disertai pengurangan kepada pembelian barang yang lain, di sana barang dan jasa yang ditawarkan tidak terbeli dan terjadilah kemunduruan, akhirnya terjadi pengangguran atau hilangnya sumber pendapatan.

Mekanisme pasar yang bersaing kompetitif akan menjamin alokasi yang tepat dari berbagai sumber ekonomi. Alokasi yang tepat tersebut dikatakan sebagai alokasi sumber yang efisien. Akan tetapi pasar seringkali tidak memenuhi asumsi-asumsinya, antara lain adanya kebebasasan keluar masuk pasar/kebebasan berusaha sehingga pengusaha akan menjadi banyak, adanya informasi barang dan jasa yang penuh, misalnya berapa biaya produksi yang sebenarnya, berapa penjualnya dan seterusnya. Asumsi lainnya bahwa para penjual tidak melakukan kompromi untuk memperdaya konsumen.

Asumsi mekanisme pasar sebagaimna disebut di atas sering tidak terjadi. Pasar sering dapat dimainkan oleh aktor-aktor, misalnya, kapan membeli secara besar-besaran dengan demikian harga akan naik, dan kapan akan menjual secara besar-besaran dan dengan demikian harga akan turun. Untuk mendorong penanaman produk pertanian para aktor sering membeli dengan harga tinggi, petani sering menanggapinya secara massal, menanam secara massal dan kemudin pada saat panen harga turun. Kebebasan pasar di negara sedang berkembang untuk mata uang, dan saham-saham sering menjadi sasaran permainana seperi ini (Stiger, 2001; Susan,  1999).

Pasar juga mengasumsikan adanya increasing cost, untuk memproduk yang makin banyak biaya biaya akan meningkat. Misalnya ketika kebutuhan pangan hanya 1000 ton maka tanah tanah subur saja yang digunakan. Ketika kebutuhan produksi pangan meningkat menjadi 10.000 ton maka tanah-tanah yang tandus juga harus ditanami. Produksi yang terakhir ini memerlukan biaya makin tinggi. Akan tetapi, karena adanya penemuaan-penemuan baru, menyebabkan biaya produksi akan makin rendah. Byte dalam komputer biaya persatuannya makin turun, biaya software juga makin turun ketika digunakan oleh semakin besar konsumen. Makin besar lagi konsumen biaya hampir tidak bertambah. Kurva biaya marginal bukannya meningkat tetapi menurun. Hal ini mengakibatkan tidak pernah bertemunya biaya marginal dan harga yang merupakan syarat keseimbangan di pasar.

Musgrave, meringkas 3 hal sebab-sebab kegagalan pasar.

  1. Pasar tidak dapat berfungsi dengan adanya ekternalitas. Ekternalitas adalah dampak baik positif maupun negatif yang dialami atau diakibatkan oleh konsumen dan produsen. Produsen yang menghasilkaan limbah beracun, sebenarnyaa untuk menghasilkan produknya memiki biaya yang lebih besar dari yang dibukukan. Ikan dan sawah yang mati milik para petani juga merupakan biaya sosial yang semestinya diperhitungkan.
  2. Pasar hanya merespon permintaan efektif dari hasil distribusi pendapatan yang terjadi. Distribusi tersebut seringkali tidak sesuai harapan atau tujuan bersama suatau masyarakat, di mana pendapatan negara terdistribusi secara menceng, misalnya, sedikit orang saja memiliki kekayaan sampai setengah dari PDB dan sebagian besar  rakyat berposisi sebagai petani kecil, pekerja informal, dan buruh yang miskin.
  3. Pasar tidak bekerja otomotais ketika ada pengangguran, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi yang kurang.

Ketiga hal tersebut memerlukan campur tangan pemerintah untuk melakukan perbaikan distribusi pendapatan (supaya harta tidak beredar hanya di antar orang kaya),  pemerintah juga dapat mendenda atau mensubsidi adanya eksternalitas yang merugikan atau menguntungkan masyarakat.  Terakhir, pemerintah bisa memainkan budget yang dimilikinya untuk mendorong produksi, menurunkan harga, dan sekaligus mengurangi penganguran. Campur tangan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan seluruh rakyat inilah ang kemudian menjadi prnsip welfare state, negara kesejahteraan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: